Kamis, 23 Juni 2011

Ruyati: Cerminan Presiden yang selalu prihatin dan tidak becus mengawasi kinerja para menteri.

Masih segar dalam memory kolektif publik Indonesia, pada Selasa (14/6/2011), dengan bangga dan percaya diri, Presiden SBY menyampaikan pidato dalam sidang International Labour Organization (ILO) ke 100 di Swiss.

Saat itu SBY mendapat apresiasi meriah dengan standing applause, karena berhasil memukau peserta sidang setelah memaparkan program pemerintah RI dalam memperhatikan nasib TKI di luar Negeri. SBY mengatakan bahwa di Indonesia mekanisme perlindungan terhadap PRT migran Indonesia sudah berjalan, tersedia institusi dan regulasinya.

Nyatanya, pidato tersebut hanyalah buaian semu. Runtuh sektika saat muncul pemberitaan dari sejumlah media Arab Saudi seperti yang dilansir laman www.alriyadh.com dan www.arabnews.com, soal Kabar eksekusi mati Ruyati Binti Sapubi.

Nasib buruh migran Indonesia yang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Arab Saudi tersebut, harus berakhir di tangan para algojo, dihukum mati dengan cara dipancung.

Lalu apa tindakan konkrit yang harus dilakukan oleh SBY dan para menterinya yang tidak becus itu. Apakah dengan adanya moratorium akan dapat menjamin kesejahteraan dan keselamatan bagi para pahlawan devisa kita di negeri orang. Sedangkan seperti yang telah kita ketahui bersama,untuk mencari lapangan pekerjaan di negeri ini pun sangatlah berat.

Sudah saatnya SBY tidak lagi berucap prihatin dengan nada sedih dan memelasnya,kini saatnya untuk mengevaluasi kinerja para menteri. Apalagi jika kinerja menteri tersebut lebih banyak menyusahkan rakyat dan negaranya maka sudah barang tentu menteri tersebut harus di reshufle.

Semoga kejadian Ruyati ini adalah yg terakhir menimpa para TKI kita,dan tidak ada Ruyati ruyati yg lainnya. Dan pemerintah harus bertanggung jawab akan kejadian ini dan segera memperbaiki sistem ketenagakerjaan di republik sulap ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar